Waktu Adalah Uang

Sebuah Karya Permulaan

Antara Tobat dan Maksiat

oleh : Abdul Rouf

Kehidupan di ibukota, tepatnya kota metropolitan seperti Jakarta sungguh sangatlah berbeda dengan kehidupan di pedesaan. Itulah yang dirasakan oleh dua orang pemuda yang bernama Riki dan Raka, mereka berasal dari Desa Cikajang Kabupaten Garut. Mereka baru pertama kalinya menginjakan kaki di Kota Jakarta.

Diawali dari sebuah desa, tepatnya Desa Cikajang Kabupaten Garut hiduplah pasangan suami istri yang bernama Adam dan Rini, mereka baru saja menikah satu minggu yang lalu. Rumah tangga mereka sangat bahagia karena pernikahan mereka didasari dengan rasa cinta dan kasih sayang satu sama lain.

Waktu terus berlalu, kini pernikahan mereka sudah berjalan enam bulan dan istrinya sedang mengandung, usia kandungannya baru dua bulan. dalam keadaan hamil Rini sangat manja, apapun yang dia inginkan selalu dituruti oleh suaminya. Sembilan bulan kemudian istrinya melahirkan di rumah sakit terdekat dan suami Rini terus menaminya, walaupun melahirkannya harus dengan cara sesar tetapi Rini dan anaknya lahir dengan selamat. Ditengah ketegangannya, ada kabar yang sangat membahagiakan menghampiri mereka, istrinya melahirkan anak kembar laki-laki dengan paras tampan lalu mereka memberi nama Riki dan Raka.

Kehidupan keluarga mereka bertambah bahagia dengan kehadiran buah hati yang sangat mereka nantikan. Adam dan Rini sangat menyayangi anaknya, mereka mendidiknya dengan baik, mengajarkannya mengaji, salat, berbuat baik kepada orang lain sejak dini agar anak-anaknya terbiasa dengan semua itu. Waktu terus berjalan, kini Riki dan Raka sudah berumur enam tahun. Orang tuanya menyekolahkan kedua anaknya ke SDN Cikajang, Riki dan Raka belajar dengan sungguh dan mereka termasuk anak yang cerdas dan baik sama teman-teman sebayanya bahkan mereka menjadi siswa teladan dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke SMPN pavorit yang ada di Kabupaten Garut.

Setelah lulus dari SMP mereka ingin sekali melanjutkan ke SMK, akan tetapi orang tuanya tidak memiliki biaya. Hingga suatu ketika datanglah paman Riki dan Raka yang bernama Paman Karim, dia merupakan adik kandung dari ibunya. Pamannya tidak tega melihat keponakannya putus sekolah, menurutnya Riki dan Raka adalah anak yang pandai dan pantas untuk melanjutkan sekolah. Akhirnya Paman Karim bersedia membiayai sekolah Riki dan Raka.

Setelah lulus dari SMK, pamannya mengajak mereka untuk ikut bekerja di Jakarta membantu usahanya . Paman Karim adalah seorang pengusaha yang cukup sukses, dia memiliki beberapa toko kain di sana. Awalnya Riki dan Raka tidak mau ke Jakarta karena mereka belum pernah ke Jakarta, akan tetapi orang tuanya terus mendesak agar mengikuti keinginan pamannya. Orang tuanya berkata, “pergilah nak bantu pamanmu di sana anggap saja sebagai balas budi karena dia telah membiayai sekolah kalian dan jangan membuat pamanmu kecewa”. Karena desakan terus menerus dari orang tuanya akhirnya mereka setuju untuk pergi ke Jakarta .

Malam sebelum mereka berangkat, ayahnya berpesan, “nak selama kalian berada di sana, kalian jangan sampai melupakan salat dan mengaji serta berbuat baiklah kepada orang lain karena kehidupan di sana sangat keras”. Setelah mendapat pesan dari ayahnya, esok harinya mereka berangkat ke Jakarta bersama pamannya. Siang itu panasnya mentari sangat menyengat membuat dahaga dan perut lapar, akhirnya mereka singgah dulu di tempat makan untuk istirahat sambil mengisi perut dan menghilangkan rasa dahaga mereka. Setelah istirahat mereka melanjutkan perjalanan menuju Jakarta, beberapa jam kemudian merekapun sampai di rumah Paman Karim. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Raka dan Riki menuju ke kamar yang telah disediakan oleh Paman Karim untuk beristirhat, sematara itu pamannya langsung menuju ke tempat kerjanya karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Setelah seharian beristirahat, besoknya Raka dan Riki mengikuti pamannya menuju tempat kerja. Mereka di tempatkan di salah satu toko milik pamannya, mereka sangat bekerja keras demi menggapai cita-citanya untuk menjadi sukses dan membahagiakan orang tuanya. Sudah hampir dua tahun mereka bekerja di tempat pamannya, mereka pun sudah terbiasa tinggal di Jakarta dan mendapatkan banyak teman.

Suatu ketika Riki dan Raka diajak dugem oleh teman-temannya, Raka menolaknya karena dia ingat pesan dari ayahnya, tetapi Riki mengikuti ajakan temannya. Raka sempat mengingatkan pesan dari ayahnya, akan tetapi Riki malah memarahi Raka :

Raka : ko kakak malah marah sama aku, aku hanya mengingatkan kakak akan pesan dari ayah agar kita tidak mudah terbawa ajakan orang lain.

Riki : kakak ingat pesan dari ayah, lagian ini hanya maen saja, kakak tidak berbuat apa-apa.

Riki dan temannya sampai juga di tempat hiburan, ketika masuk Riki kaget melihat keramaian dan banyak wanita yang berpakaian seksi, karena dia baru pertama kalinya pergi ke tempat seperti ini. Temannya mengajak Riki untuk minum-minum, tetapi Riki menolak karena masik ingat pesan ayahnya. Setiap satu minggu sekali Riki dan temannya selalu pergi ke tempat hiburan, karena sering pergi ketika Riki di tawari minuman beralkohol dia mencoba meminumnya dan melupakan pesan ayahnya.

Lama-kelamaan Riki kecanduan meminum-minuman yang beralkohol, walaupun adiknya selalu mengingatkannya, akan tetapi dia tidak mendengarkannya, malahan Riki mengancam adiknya. Dia berkata, Kalo sampai kamu memberitahukan masalah ini kepada ayah kamu akan merasakan akibatnya. Karena Raka merasa takut pada kakaknya dia pun membiarkan kakaknya terjerumus pada kemaksiatan.

Suatu ketika Raka sedang membaca Al-qur’an dan Riki sedang asiknya meminum-minuman alkohol, tiba-tiba Riki berhenti meminum setelah mendengar lantunan ayat suci Al-qur’an. Dalam benaknya Riki ingin sekali mencoba membaca kembali ayat Al-qur’an yang sudah lama dia tinggalkan, sebaliknya Raka berpikir mengapa kakaknya sangat asyik sekali diam dalam kemaksiatan, dalam benaknya dia ingin mencoba minuman yang menurut kakaknya sangat mengasikan seperti berada di surga dunia.

Riki berjalan menuju tempat adiknya yang sedang membaca Al-qur’an dan Raka berjalan menuju ke tempat dimana kakaknya minum-minuman beralkohol. Di tengah-tengah perjalanan Allah swt. menunjukan kuasanya, ketika Raka ingin mencoba minum dan Riki ingin mencoba membaca Al-qur’an tiba-tiba nyawa mereka dicabut oleh Allah swt. dalam keadaan yang terbalik.

Raka yang tadinya rajin salat dan membaca Al-qur’an ketika dia meninggal, dia dalam keadaan ingin melakukan maksiat. Sebaliknya Riki kakaknya ketika dia meninggal, dia dalam kedaan ingin tobat dengan membaca Al-qur’an. Sungguh kuasa Allah itu tidak dapat kita hindari.

Orang tua Raka dan Riki sangat sedih ketika mendenagr kejadian yang menimpa anaknya. Mengapa anaknya bisa meninggal di usia yang masih muda dan yang tidak mereka sangka, ternyata Riki meninggal akibat terlalu banyak mengkonsumsi minum-minuman beralkohol tetapi kedua orang tuanya mengetahui Riki terjerumus ke dalam maksiat. Akhirnya jenazah mereka dibawa ke kampung halamannya untuk dimakamkan.

Antologi Puisi Abdul Rouf

Tetesan Air Mata

Kalaulah ada tetesan air

Itulah tetesan air matamu

Kalaulah ada suara

Itulah detak jantungmu

Tetesan air matamu yang bermakna

Detak jantungmu bagaikan suara arloji

yang tak pernah berhenti


Nirmala

Aku menemukanmu tanpa sengaja

Melewati layer patamorgna ramai

Indah

Dan menawan ku kecup di pelaminan

Sembari hatiku mulai luluh berontak

Ku ingat setiap malam

Ku rengkuh setiap waktu

Ku rajut sampai akhir hidupku

Esok

Hilang

Dari

Nirmala ……

Tidak ada postingan.
Tidak ada postingan.